(……….. musik )
Teatrikal dimana Indonesia mencoba mempertahankan kesenian reog ponorogo yang diklaim Malaysia.
Puisi
Rumah
(Ramah atau Lemah)
Gemerlap langit bumi pertiwi
Terpampang ribuan budaya anak bangsa
Menoreh sejarah dunia
Ah………
Sejak lama jua anugrah itu ada
Namun kini…..esok..
Atau mungkin beberapa dasawarsa lagi
Ragam keindahan itu kan luntur
Bahkan mungkin sirna oleh keramahtamahan
Ramah akan penjajahan
Ramah akan kemunafikan
ramah akan kepicikan negeri seberang
Apakah itu tanda keramahan??
Ataukah tanda kelemahan…
(Musik…)
Inilah karya budaya negeri..
Karya abadi nan jaya..
Oleh karena itu..
Harus dilestarikan dan dijaga..
Sumiati, Suroyo, Minah masuk membersihkan perabot sanggar
- Sumiati : “Ah… (sambil mengusap peluh)
- Minah : “ Ya sampai hati dan nurani pemuda Indonesia ini sudah tidak lagi di Indonesia!”
- Suroyo : “Bener itu… Kenapa ya, cuma kita di sini yang berusaha membuat Indonesia itu lebih Indonesia lagi? Padahal, coba kalian hitung, bandingkan banyaknya rambut yang melekat di kepalamu itu dengan kekayaan budaya kita. Berani taruhan, sampai gundulpun rambut kalian tidak akan mampu menandingi banyaknya budaya Indonesia tercinta ini.”
- Sumiati : “Iya… apalagi ditambah dengan budaya kita “DATANG AKUR” itu, waah..malah gak terhitung lagi jumlahnya.”
- Minah : “ Sik..sik..sik..Opo iku DATANG AKUR??”
- Sumiati : “ Ya itu.. buDAya uTANG gAK nyaUR! Yang susah siapa? Yo awake dewe, para generasi penerus bangsa.”
- Suroyo : “ Nek ngunu, jenenge dudu generasi penerus bangsa reek..”
- Minah : “ Lha terus apa?”
- Sumiati : “ Generasi penerus utang, lha itu yang lebih tepat!”
- Suroyo : ” Yo…yo…bener…bener…”
- Minah : “ Tapi menurutku, dilihat dari proses terjadinya, DATANG AKUR itu tadi tidak bisa dikategorikan sebagai budaya rek!”
- Sumiati : “ Lha terus apa?”
- Minah : “Iku mau termasuk seni.”
- Suroyo : “ Lha kok bisa?”
- Minah : “ Masih gak percaya kalau itu seni? Seni itu adalah apresiasi jiwa. Segala keindahan yang dimunculkan dari kreativitas dan pikiran kita. Dengan kreativitas itu kita bisa memunculkan hal-hal yang tidak mungkin menjadi mungkin, hal-hal yang tidak layak menjadi layak begitu juga sebaliknya.”
- Suroyo : “ Wah hebat kamu..!”
- Sumiati : “ Lha terus apa hubungannya?”
- Minah : “ Dalam ‘DATANG AKUR’ juga gitu, kalau gak punya seninya pasti gak akan terlaksana!”
- Sumiati : “ Maksudnya gimana to?”
- Minah : “ Sekarang gini, pemerintah kita ini punya utang di IMF misalnya. Tahu gak kalian apa IMF itu?”
- Sumiati&Suroyo: (menggelengkan kepala) “gak..!”
- Minah : “ IMF itu Instansi Makelar Fulus, jadi badan dunia yang biasanya meminjamkan fulus ke negara-negara di dunia.”
- Sumiati&Suroyo : “ Oooo…..”
- Minah : “ Suatu hari IMF datang dan bertanya kepada Indonesia.
Pemerintah kita menjawab, waduh kamu tahu sendiri kan, negaraku ini baru terkena bencana. Jadi, saya baru bayar 5 tahun lagi.
IMF menjawab, oke kalau gitu bener ya 5 tahun lagi. Iya pasti, jawab Indonesia.
Selang 5 tahun IMF datang lagi. Mana janjimu Sia??, katanya mau bayar sekarang. Udah 5 tahun kan?
Waduh, baru aja saya buat impor beras, kasihan pak, rakyat saya banyak yang kelaparan, jawab Indonesia lagi..
Lho kan negaramu ini sawahnya terbentang luas kok masih impor?
Lha iya itu.. Saya butuh waktu 5 tahun lagi, kata Indonesia.
Lalu IMF menyetujui, oke saya datang 5 tahun lagi.
Dan 5 tahun kemudian IMF datang. Mana janjimu, katanya mau dibayar sekarang? Waduh bos, uangnya masih dibawa Gayus gak balik-balik.”
- Sumiati : “ Ooo.. Ya itu seninya. Seni untuk meloloskan diri dari jeratan penagih hutang, he…..”
- Suroyo : “ Pinter juga kamu..”
- Minah : “ Lho..wong aku e.. Minah..”
- Sumiati : “ Aku seng pinter, bukan kamu Nah..”
- Juminten: “Wah..wah.. pada ngapain ne?kayaknya asyik banget?”
- Minah : “ Ini lo.. kami bertiga ngobrol-ngobrol masalah seni dan kebudayaan Indonesia ini!”
- Juminten: “ Wah.. kebetulan aku juga mau memberi informasi pada kalian.”
- Sumiati : “Informasi apa?”
- Juminten: “ Kalian tau gak?”…
- Minah&Suroyo: “ Gak…”
- Sumiati : “ Kalo aku tahu ya gak tanya?”
- Juminten: “ Minggu depan itu sanggar kita akan mengadakan pagelaran seni kebudayaan yang berskala internasional. Tidak hanya masyarakat Indonesia saja yang menonton pagelaran kita ini, tapi juga mengundang duta dari Malaysia.”
- Suroyo : “ Wah.. hebat dong..!”
- Sumiati : “ Memang benar? Kamu tahu informasi itu dari mana?”
- Juminten: “ Justru itu, pimpinan sanggar rumah budaya ini yang memberi perintah langsung untuk menyampaikan kepada kalian tentang informasi itu!
- Sumiati : “ Wah..asyik dong!Kita jadi terkenal..”
- Suroyo : “ Ya nih..pasti pemasukan yang akan kita dapatkan juga semakin meningkat, berarti honor kita juga naik.
- Sumiati : “ Huuu….(sambil memukul kepala Suroyo)
- Juminten: “ Itu..itu..Bu Dila datang!!”
- Bu Dila : “ Asslamualaikum…”
- Bersama2: “ Walaikumsalam warohmatulloh..”
- Bu Dila : “ Begini rekan-rekan yang saya hormati. Pada kesempatan kali ini saya akan menyampaikan beberapa informasi yang penting terkait dengan pengembangan sanggar kita ini. Sebelumnya beri tepuk tangan terlebih dahulu..”
- Sumiati : “ (sambil berbisik) belum ngomong apa-apa kok disuruh tepuk tangan!”
- Bu Dila : “ Rekan-rekan, tadi malam pada jam 7.30 lebih 19 detik, saya sedang krosing internet..”
- Sumiati : (menyela perkataan Bu Dila) “Maaf Bu, yang betul browsing internet.”
- Bu Dila : “Lho…..3x, yang jadi pimpinan ini aku apa kamu ? “
- Sumiati : “Ya sampean to…..”
- Bu Dila : “Makannya itu terserah aku donk mau bilang apa ? kamu mau nggak saya gaji !”
- Sumiati : “Ya…ya..maaf Bu Dila. Silahkan dilajutkan….!”
- Bu Dila : “ Baik saya ulangi lagi tadi malam saya browsing internet disitu jejaring sosial ‘kesbruk’……yang …..(belum selesai bicara)”
- Minah : “Maaf Bu Dila, yang benar itu facebook…….bukan kesbruk….”
- Bu Dila : “ Yang jadi pimpinan itu siapa ? mau kesbruk kek, mau mabuk kek, ku bilang mbokmu juga mau apa ? yang gaji kamu itu siapa ? mau tak potong gajimu ?”
- Minah : “ Iya…..iya…. Bu Dila, saya minta maaf !”
- Bu Dila : “ Saya lanjutkan, di facebook itu saya sempat “cateringan” dengan duta besar Malaysia……(terdiam sejenak)……kenapa kalian tertawa ? (sambil menunjuk kearah penonton) ada yang salah dengan ucapan saya ? Kenapa kalian diam saja kalau kata-kata saya ada yan salah ? Mau saya pecat kalian semua ?”
- Sumiati : ( sambil berbisik) “ Repot……begini salah …..beegitu salah…!”
- Bu Dila : “ Saya lanjutkan lagi, di dalam chating itu, beliau-beliau menawarkan kepada saya untuk bekerjasama. Mereka memberi bantuan dana yang jumlahnya lumayan besar. Yaitu sekitar 4 triliun rupiah kepada kita untuk mengdakan pagelaran akbar seni dan budaya dari sanggar kita ini . bagaimana menurut kalian ?? saya hebat kan ? ha….ha….?!
- Suroyo : “ wah… hebat..hebat. Pimpinan kita memang hebat.”
- Bu Dila : “ Yo mesti lo…siapa dulu??”
- Minah : “ Jangan senang dulu..kita boleh berbangga, tapi perlu diwaspadai, perlu juga berhati-hati. Jangan sampai kita terlena oleh kesenangan sesaat yang tanpa kita sadari, kesenangan itu semata adalah bagian dari siasat musuh. Harga diri bangsa ini lebih mulia nilainya dibandingkan dengan apapun.”
- Sumiati : “ Wah..wah..maksudnya kamu menuduh mereka punya siasat lain gitu?”
- Minah : “ Bukan menuduh tapi berhati-hati… Apa salahnya?”
- Suroyo : “ Jangan gitu kamu.. kita ini dimata dunia terkenal dengan bangsa yang ramah. Apa salahnya kita menerima mereka dengan tangan terbuka, toh akhirnya mereka juga memberikan kita keuntungan yang sangat besar. Bayangkan 4 trilyun, gak sedikit lo itu…!”
- Sumiati&Juminten : “ Betul..betul itu..!”
- Bu Dila : “ Sudah..sudah..jangan berteman.
- Juminten: “ Jangan bertengkar buk..(membenarkan perkataan 5)
- Bu Dila : “ Siapa pimpinan disini?”
- Juminten: “ oh..iya..iya.. buk lupa..”
- Bu Dila : “ Jadi, saya yang menentukan disini. Sekarang kalian istirahatlah dan jangan lupa hubungi teman-teman yang lain. Besok pagi ada tamu dari negeri seberang mau mengunjungi rumah budaya kita ini. Siapa tahu besok kita dapat coklat tombo ngelak.”
- Sumiati, Juminten&Suroyo: ” Siap bos laksanakan!”
- Minah : (hanya menggelengkan kepala)
- Sumiati, Minah, Suroyo dan Jumiati meninggalkan panggung
- Bu Dila : “ hahaha….bisa saja mereka itu kubodohi. Sebentar lagi aku akan dapat uang 4 trilyun. Hahaha…untung saja kemarin aku menyetujui kesepakatan dengan duta Malaysia, bahwa sanggar ini telah menjadi hak milik, hak cipta dan hak pengakuan atas kebudayaan mereka. Tinggal tandatangan, uang mengalir, hahaha…… Persetan dengan kebudayaan kita tidak akan kenyang makan kebudayaan yang penting adalah uang.hahaha…..”
BABAK 2
- Kardi : “Kemana anak-anak ini? Katanya latihan kok jam segini belum ada yang datang?”
- Dhenok : “ Akhirnya setelah sekian lama kita menunggu pagelaran seni dari sanggar kita ini sebentar lagi akan terlaksana…………..”
- Kardi : “ Itu artinya budaya kita akan lebih dikenal lagi oleh Negara lain…………..”
- Cemeng : “ Eh ngomong-ngomong, katanya pagi ini kita ada jadwal latihan ? Kok sampai jam segini belum ada yang datang ?
- Kardi : “ Ya mungkin masih tidur Meng……”
- Dhenok : “ Daripada kita bosan menunggu bagaimana kalau kita main tebak-tebakan dulu…..”
- Kardi : “ Waaaah usul yang baik itu….”
- Cemeng : “ Tapi harus ada hukumannya biar seru, bagaimana…..?”
- Dhenok : “ Setuju…….tapi apa hukumannya ?”
- Kardi : “ Bagaimana kalau hukumannya yang kalah dipukul 10 kali, bagaimana ?”
- Dhenok & Cemeng : “ Setuju….setuju……”
- Kardi : “ Kita undi dulu siapa yang jadi wasit……………..”
- Dhenok : “ Yes…..!! Kalau begitu aku jadi wasit. Sekarang kalian berdua suit untuk menjadi siapa yang memberi pertanyaan dulu………”Ayo sekarang kita mulai………..sekarang Kardi, kamu dulu yang memberi pertanyaan…….”
- Kardi : “ Oke……….panjang, lancip, gepeng apa hayo…..!”
- Cemeng : “ Hmm……..gampang……..jawabanya terong….!”
- Kardi : “ Ha……ha……ha……..salah…..
- Dhenok : “ Trus apa jawabannya……?”
- Kardi : “ Yang benar itu pisau………..( bersiap-siap mukul)
- Cemeng: “ Tunggu dulu…… Lha iya, pisau itu buat ngupas terong !”
- Dhenok : “ Iya bener…..berarti kamu Di yang kalah…..!”
- Kardi : “ Aduh…..”
- Dhenok : “ Sekarang gantian, kamu Meng yang ngasih pertanyaan “
- Cemeng : “ Siip…….pertanyaannya, ada dua ekor kuda yang satu menghadap ke barat yang satu menghadap ke timur. Bagaimana cara mereka berhadap-hadapan, hayo……!!”
- Kardi : “ Gampang……. Caranya mereka sama-sama berputar, balik badan, pasti nanti mereka berhadap – hadapan.
- Cemeng: “ Ha……ha….. salah !!”
- Dhenok : “ Kalau begitu jawabannya apa ?”
- Cemeng : “ Jawabannya yang benar itu ya dibiarkan saja, kuda itu kan sudah berhadap-hadapan yang satu menghadap ke barat, yang satu menghadap ke timur.
- Dhenok : “ Kok bisa gitu…?”
- Cemeng : “ Coba kita praktikkan, seumpama kita jadi kuda
- Kardi : “ Oh…..iya….ya…..( sambil menggaruk kepala )
- Dhenok : “ Okey kalo gitu Cemeng menang lagi “
- Cemeng : “ Asyik ………… mukul lagi “ (memukul Kardi lagi )
- Kardi : “ Waduh kena lagi……….awas ya tak bales, sekarang gantian…?! apa, aku kena terus. Aku yang ngasih pertanyaan lagi…”
- Dhenok : “ Ya…….. gantian kamu sekarang…..!”
- Kardi : “ Awas ya…….pasti kamu gak bisa jawab sekarang…… Ayo ……..bentuknya bulat, lebar, bolong-bolong…..apa, hayo..?? pasti gak bisa jawab…..hahaha…!
- Cemeng : “ Emm….apa ya ? Ha….ha…. Aku tahu….Jawabannnya pasti terong “
- Kardi : “ Ha…..ha…. apa kok terong terus……salah!! ……kali ini nggak mungkin kamu menang!”
- Dhenok : “ Ya udah sekarang apa jawabannya ?”
- Kardi : “ Bulat, lebar, bolong – bolong itu ya kerajang…..” ( siap-siap memukul )
- Cemeng : “ Sik….sik….sik…..aku tadi jawab apa…?
- Kardi : “ Terong…….ya salah itu ? Jawabannya lo keranjang…..!”
- Cemeng : “ Lha iya……keranjang itu gawe ngadahi terong ……..!”
- Kardi : “ Iya…….iya…..!”
- Cemeng : ( memukul Kardi )
- Kardi : “ Duh…..kena terus aku…..!”
- Dhenok : “ Ayo sekarang gantian kamu 8 yang ngasih pertanyaan !”
- Cemeng: “ Oke…… Dibuka marah-marah…..ditutup malah ngintip-ngintip, apa hayo?”
- Kardi : “ Ah….jorok kamu Meng…… malukan dilihat banyak penonton……”
- Cemeng : “ Ya pikiranmu itu yang jorok…. ! Ayo, cepet jawab !”
- Kardi : “ Apa ya ? Nyerah wis…….”
- Dhenok : “ Ya udah jawannya apa ? ”
- Cemeng : “ Jawabannya, orang naik becak kehujanan…..ha…..ha…..ha….. “
- Kardi : “ Ooh…..iya…ya…..wis sekarang aku jadi wasit aja…….dari tadi aku terus yang kena pukul…… “
- Dhenok : “ Ya deh…….ayo gantian…….aku ya yang ngasih pertanyaan……..”
- Cemeng : “ Ya…..ayo…… “
- Kardi : “ Berapa jumlah banyaknya bulu kucing jantan yang ditinggal sama kucing betina selama 3 tahun “
- Cemeng : “ Waduh…….gak tahu aku jawabannya kamu tahu gak Nok?
- Dhenok : “ Gak……gak tahu juga aku…..berapa ya……? “
- Cemeng : “ Tanya wasit aja……kamu tau gak jumlahnya berapa ? “
- Kardi : “ Gak…….” (langsung dipukul oleh Dhenok & Cemeng )
- Cemeng : “ Ya kamu berarti yang kalah Di…….”
- Dhenok : “ Iya kamu kan gak bisa jawab….”
- Kardi : “ Oalah…….aku lagi yang kalah…..udah….udah selesai….selesai….dah aku pulang kampung aja “
- Cemeng : “ Lho….lho….tunggu dulu….mau kemana…..jangan ngambek gitu…..dunk….
- Kardi : “Aku mau pulang aja……apa, dari tadi aku main diakalin terus………..
- Dhenok : “ Ya……ya deh maaf….kita ini kan Cuma bercanda……”
- Kardi : “ Bercanda sih bercanda, tapi kalau kena pukul terus benjol semua kepala ini…..”
- Juminten: “ Assalamu’alaikum…………..”
- Serentak: “Wa’alaikumsalah………………………..”
- Juminten: “ Waduh, kalian semua sudah latihan nih kelihatannya ??”
- Dhenoh : “ Ya pasti donk, kami kan bersemangat sekali, ya gak ??”
- Kardi : “ Iya bener banget, apalagi ini semua untuk menyambut duta Malaysia yang datang ke sanggar kita ini. Ya….agar mereka tidak kecewa dengan sambutan kita.”
- Minah : “ Udah cepat kalian latihan, ntar keburu Bu Dila datang.
- Dhenok : “ Ayo…..ayo kita mulai latihan “
(Bu Dila datang)
151. Bu Dila : “Assalamualaikum..”
152. Bersma2 : “Walaikumsalam..”
153. Bu Dila : “Stop..stop..Hentikan dulu latihannya…Tamu yang sudah kita nanti-nantikan datang. Silahkan masuk Mak cik..”
154. (Nur Halimah, Zaenab dan 2 pengawal masuk diiringi musik)
155. Nur H : “Assalamualaikum..selamat pagi semua…
Terima kasih atas sambutannya..Saya sangat bahagia telah sampai di Indonesia ini…
Saya telah melihat sebentar latihan kalian tadi, dan saya sangat kagum.”
156. Bu Dila : “Terimakasih..terimakasih…Ya itu semua kan berkat bimbingan dari saya…he…jadi malu…”
- Nur H : “Oo…oo….ya bagus..bagus….”
- Bu Dila : “Terimakasih..sekarang kalian semua istirahat dulu..saya mau ngobrol-ngobrol dengan tamu kita ini.”
- Serentak: “Baik bu..”
- (Sumiati, Minah dan Jumiati keluar)
- Zaenab : “Bagaimana bu Dila, tentang persetujuan kita kemarin?”
- Bu Dila : “Hoho… ya pasti beres. Asalkan ada uang semua lancar..”
- Nur H :” Tolong Zaenab kamu keluarkan kopernya…
Tolong dibaca dulu…”
- Bu Dila : “(Membaca surat persetujuannya)
Demikian surat itu kami buat atas dasar kesadaran dan persetujuan bersama.
Ttd
Siti Kondilati
Selaku pimpinan utama
Oke, tinggal tanda tangan kan?”
165. Nur H : “Ya..silahkan…”
(Bu Dila menandatangani surat persetujuan itu)
166. Bu Dila : “Ah…sekarang feenya dong..!”
167. Nur H : “Tenang saja…. Zaenab bawa kesini kopernya!!”
(Nur H menyerahkan koper kepada Zaenab)
- Nur H : “Ini lo kamu hitung dulu jumlahnya. Bener apa gak?”
- Bu Dila : “Siiiip….Wah….kaya mendadak ini aku.ha..ha…”
- Zaenab : “ganti papan namanya!!!”
- Pengawal 1 dan 2: “Baik bos..!!”
- (Pengawal 1 dan 2 mengganti papan nama rumah budaya Indonesia dengan papan nama rumah budaya Malaysia)
- Minah : “Lho..lho..tunggu…tunggu…apa-apaan ini?
174. Bu Dila: “Sudah kalian diam saja!
- Kalian semua dengarkan perkataan saya, mulai hari ini sanggar budaya kita ini milik Nur Halimah.”
- Suroyo : “Trus nasib kami gimana bu?”
178. Nur H : “Ooo…kalau masalah itu tenang aja. Kalian semua gak perlu kawatir! Tolong jelaskan Zaenab!”
179. Zaenab : “Begini saudara-saudara sekalian . Anda tidak perlu kawatir tentang hal itu. Bos saya telah menyiapkan segalanya. Jadi, kalian semua bisa tetap bekerja disini dengan gaji yang lebih besar. 10x lipat dari gaji anda sekeluarga.”
Serentak terkejut kecuali Minah :”Ooo”……………
180. Kardi : “Wah….asyik dong kalau begitu..”
181. Dhenok&Cemeng: “Iya..iya..horeee…..”
182. Minah : “Tunggu dulu…Aku tidak setuju. Walaupun kalian gaji aku 100x lipat! Aku lebih memilih kebudayaanku ini tetap di tanganku!”
183. Bu Dila : “hey.. jangan membuat ulah kamu disini. Lihatlah ini surat pernyataan yang sudah kutandatangani kalau kamu masih berulah. Jangan harap mendapat uang sepeserpun. Sekarang juga kamu kupecat dengan tidak hormat.”
184. Minah : “Hey keparat!! Aku tidak akan makan uang harammu itu.Dimana hati nurani kalian, dimana rasa nasionalisme kalian?Ini yang kalian sebut bangsa yang ramah? Ramah terhadap penindasan. Ya??”
185. Juminten: “Sudahlah jangan munafik kamu..Mengapa kita harus punya rasa nasionalisme kalau pemerintah kita aja tidak punya…”
186. Minah : “Bangsat kalian semua!Negeri ini pasti menyesal telah melahirkan makhluk-makhluk jahanam seperti kalian….Kalian benar-benar lemah!!”Kurang ajar!!(Sambil hendak memukul Bu Dila dan Nur H)
(Serempak mereka memegangi pundak Minah dan menghajar Minah….)
Musik
Inilah nasib budaya negeri
Terkikis oleh budaya asing
Adakah hari esok nan cerah
Untuk menggapai asa…
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar