Yang terhormat Kepala Dinas
Pendidikan Pemuda dan Olahraga, Yang yang terhormat Ketua Komite SMPN-1 SAMPIT, Yang terhormat Kepala Sekolah SMPN-1 SAMPIT, Yang terhormat Bpk dan
Ibu Dewan Guru serta teman-teman ku adik kelas ku yang saya cintai dan para
undangan yang berbahagia .
Pertama–tama marilah kita
panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT karena atas berkah dan
karunianya kita semua dapat berkumpul di gedung yang sering kita gunakan ini
untuk berbagai macam hal
dan keperluan.
Ini adalah kali terakhir
saya berada di atas sini, seperti yang kita tau sebentar lagi kita akan
meninggalkan sekolah kita yang sangat kita banggakan ini, khususnya bagi saya,
karena bersekolah disini saya bisa
mendapatkan sesuatu yang
sangat berharga, yaitu ILMU,
ILMU yang akan membawa kita ke jenjang yang lebih tinggi, ILMU yang akan
membawa kita menjadi orang yang bisa diandalkan, orang yang bisa menjadi
kebanggaan keluarga dan Negara. Dengan ILMU kita bisa mewujudkan cita-cita yang ingin kita capai.
Baiklah saya kira pidato
saya cukup sampai disini, kerongkongan saya juga mulai kering tidak ada yangngasih
minum sih saya disini.
Saya harap setelah kita
sukses nanti jangan lupa sama teman mu yang ganteng ini yaaa kalo ketemu jangan sombong…
Baiklah langsung saja
kita tutup pidato ini salah dan khilafnya mohon di maafkan dan saya ucapkan
terima kasih atas perhatiaannya.
Suspot : lho,
kok kalian pada gelisah sih kaya cacing kepanasan ?
Puci : “Haisshh...suspot...suspot...kamu badengen
ya..gak dengar apahh di luar sana ribut-
ribut.”
Suspot : “Oh masa...!
Kunti : “Iy dunkk...coba kamu dengar suara diluar
sana!
Suspot : “ Ok deh...tunggu bentar, kalian benar diluar
sana terdengar berisik sekali!
Puci : “Gimana kalau kita lihat keluar saja?”
Sundi & Suspot : “Oke. Siapa takut?”
( Akhirnya ketiga hantu penghuni makam kramat itu memutuskan
untuk keluar dari tempat peristirahatannya ).
Dengan diiringi suara-suara
seram
Puci : “ Sun, mereka lagi ngapain
sih ? “
Suspot : “O’oh...mereka lagi ngapain y...?”
Sundi : “ Emangnya kalian gak tau ya mereka itu para kru TV. Ya tentu
saja mau syuting film. “
Puci : “ Syuting film kok disini.
Emangnya gak ada tempat yang lebih bagus dari pada rumah kita. “
Suspot : “Betul...betul...betul...padahalkan, tempat
kita ini menyeramkan bagi mereka?
Sundi : “ Iya. manusia ini memang aneh, bukannya cari tempat yang bagus buat
syuting film eh malah mengganggu kita yang sudah tenang disini. “
Puci : “ Sun, katanya mereka mau
syuting film. Mana aktris dan aktornya ?”
Sundi : “ Iya kamu bener. Kok gak
ada ya. “
Puci : “ Wah kesempatan nih siapa tau aku bisa jadi aktrisnya.Aku kan cantik
imoet getoh.
Suspot : “Eh...kalian gak tau apah, aktrisnya itu aku tau....”
Sundi : “ Huss ngaco kamu, mana mau mereka ngajak kamu main film, kalau
ngomong aja kamu kadang gak nyambung. Mendingan aku, aku kan yang paling mirip sama Syahrini“
Suspot : “Dari rambut aja ga mirip apalagi dari muka, Sol sepatu dech loe....”
Sundi & Puci : “Sesuatu suspot...............”
( Tiba – tiba dari arah belakang muncul seorang hantu cantik yang
mengejutkan mereka bertiga )
Kunti : “Otoke………Emangnya kalian bertiga bukan hantu apa.”
Puci : “Hah, Kita bertiga hantu ya????.”
Suspot & sundi : “yaiyalah puci......., kamu pikir kita tukang kebon apha....”
Puci : “ hehehehe....iya juga ya....”
Sundi : ( Dengan nada marah ) Husss ngaco kamu. ( melihat kepada Kunti dengan
rasa jengkel )
Suspot : ” Hey..! kamu kamu penghuni baru disini ya ?”
Kunti : “ Aku ini datang dari
tempat nan jauh disana. Aku mau melihat pemandangan disekitar sini yang katanya
sih bagus.Tetapi, ternyata tempatnya jelek apalagi penghuni disini yang jelek –
jelek.”
Puci : “ Hey…! Ngomong lagi gue
kepret lho.”
Kunti : “ Emangnya kamu bisa. Aku
gak yakin tuh, kamu bisa.Ayo coba pukul. Hah, tapi aku gak peduli tuh karena
syutingnya udah mau mulai. Siapa tahu aku bisa ikut jadi pemainnya. “
Sundi : “ Emangnya mereka bisa
ngeliat kamu apa ?”
Kunti : “ Emangnya kamu gak tahu
mereka mau syuting apa ?”
Suspot : “ Kita mana tahu acara TV, kita kan gak punya
TV.”
Kunti : “ Kasihan deh lo, makanya
yang gaul dong. Kalau bukan dari TV, kan bisa dari BBM, Twiter, Facebook. Gimana hantunya mau maju coba kalo
ga pernah denger gosip.......
Sundi : “ Gosip apa sih ?”
Kunti : “ Zaman sekarang ini
manusia lebih suka berinteraksi dengan makhluk ghaib alias apa hayo ?”
Suspot, Puci & Sundi : “ Hantuuu.”
Kunti : “ Iya , benar. Mereka itu
ingin mengetahui tentang dunia kita ini.”
Puci : “ Manusia ini kok aneh, sih.
Kita aja pengin jadi manusia dan menikmati kesenangan dunia,........”
Suspot: “Eh malah mereka mau tau tentang dunia kita.”
Puci: “Idih....... kenapaa sich kamu nyambung
perkataanku kaya XL aj.......
Suspot: “Masalah buat loe”
( Tepat jam 11.00 malam acara
menelusuri alam ghaib dimulai )
Heni Panci : “ Selamat malam, pemirsa.
Kita bertemu lagi dalam acara “ Menelusuri Alam Ghaib “ bersama saya Heri Panci
Gosong. Pemirsa pada episode kali ini kami telah mendapatkan tempat yang dianggap
paling kramat ditempat ini yaitu kompleks kuburan kramat Ki kolor ijuk.Baiklah
pemirsa sebelum acara uji nyali kita mulai, kami terlebih dahulu akan mencari
peserta uji nyali yang berani kita tinggal sendirian ditempat ini selama 2
jam.”
( Heri Panci mulai mencari
peserta uji nyali diantara kerumunan penonton, kemudian dia menunjuk seorang
pemuda yang mengangkat tangannya ).
Heri panci : “ Ya, mas. Silahkan.”
( Peserta tadi naik ke
panggung ).
Heni panci : “ Selamat malam, mas.”
Tarmo : “ Selamat malam, mba.”
Heni panci : “ Siapa nama anda ?”
Tarmo : “ Namanya saya Tarmo beres
slamet. Tapi biasanya saya dipanggil Tarmo saja, mas.”
Heni panci : “ Anda berasal darimana Mas
?”
Tarmo : “ Saya berasal dari Madura
asli, Mba.”
Heni panci : “ Apa alasan anda mengikuti
acara ini ?”
Tarmo : “ Saya ingin mencari pacar
dari alam ghaib, Mas. Siapa tau saya bisa kawin. Nanti Mas – mas ini saya
undang.”
Heni panci : “ Baik Mas Tarmo, sebelum
acara uji nyali kita mulai, mari kita tanyakan terlebih dahulu keadaan disini
kepada ahlinya. Selamat malam Nyai roro
jadul!”
Nyai : “ Selamat malam, Mba.”
Heni panci : “ Menurut nyai, bagaimana keadaan disekitar makam kramat ini
?”
Nyai : “ Kalau dilihat dan
diperhatikan sepertinya tempat ini bersih, terawat, dan katanya sih pengunjungnya
banyak. Tetapi, sayang Mba tempatnya jauh dan sulit
dijangkau. Kaki saya sampai lecet nih, sedikit.”
Heni panci : “ Maaf,nyai. Maksud saya bukan itu nyai.Maksud saya bagaimana keadaan disini bila
dilihat dari mata batin nyai.”
Nyai : “ Oh itu, ngomong dong dari
tadi. Jadi saya gak usah banyak ngomong.Baiklah, kalau dilihat dan dirasakan
dari mata batin saya sepertinya tempat ini banyak sekali hantunya.Sepertinya
hantunya menyebar dimana – mana.tetapi Mba, pusat kekuatan mistis terbesar terdapat dikuburan ini. Tempat ini juga
merupakan tempat yang strategis untuk para hantu cangkruk bersama.”
Tarmo : “ Lho nyai, hantu bisa cangkru’an juga ya ?”
Nyai : “ Oh jangan salah Mba. Sebenarnya paling suka cangkru’an itu adalah
hantu karena mereka tidak punya kerjaan lain selain cangkru’an. Bisa mirip
tante – tante genit gitu lho.”
Heni panci : “ Ah Nyai bisa aja. Baik Mas Tarmo, bagaimana apakah anda
sudah siap ?”
Tarmo : “ Saya sudah siap dari tadi
mba.”
Heni panci : “ Baik Mas Tarmo. Kami akan
meninggalkan anda disini selama 2 jam, jika anda berhasil anda akan mendapatkan
hadiah dari kami. Tetapi jika anda menyerah, maka anda cukup bisa melambaikan
tangan kepada kami, maka kru kami akan segera membantu anda. Tetapi, jika anda
menyerah maka anda tidak akan mendapatkan hadiah.”
( Kemudiannyai dan Heri panci meninggalkan Tarmo di kompleks
kuburan kramat itu sendirian, namun dari semak-semak tempat persembunyian
ketiga hantu mulai berbincang-bincang lagi ).
Kunti : “ Tuh khan, kalian denger
sendiri. Kalau cowok ganteng itu mau mencari pacar dari golongan kita.”
Puci : “ Tapi itu khan menyalahi
aturan, kita khan sudah diberi batasan untuk tidak saling menganggu. Apalagi manusia
itu sudah mengganggu kita yang sudah tenang disini.”
Kunti : “ Ah, aku gak peduli yang
penting aku dapat pacar dari bangsa manusia yang cuakep dan suedep.”
Sundi : “ Ya, sudah kalau diomongin
gak mau. Kamu rasakan sendiri akibatnya nanti. AyoSuspot, Puci kita pergi.” ( menarik Puci dan suspot )
Kunti : “ Pergi aja sana.”
Suspot: “ Awas ya..... kalo ada apa-apa with you, kami ga akan menolong kamu
titik ga pake koma.
Kunti: “Okelah kalo begetoh....
( Hantu cantik ini kemudian
mendekati Tarmo dan mengejutkannya ).
Kunti : “ Mas……. mas cakep.”
Tarmo : ( menoleh dan terkejut ) “
Ya ampun, cantik sekali ! Siapa namakamu ?”
Kunti : ( terseipu malu ) “ Nama
saya Kunti Mas. Kalau Mas namanya siapa ?”
Tarmo : “ Nama saya Tarmo beres
slamet. Tapi, biasanya saya dipanggil Tarmo saja.”
Kunti : “ Nama Mas bagus deh,
sebagus orangnya.”
Tarmo : “ Nama kamu juga cantik
sama seperti orangnya.”
( Kedua makhluk yang berbeda
alam tersebut langsung akrab dan langsung asyik berbincang-bincang. Namun,
tiba-tiba terdengar suara tawa yang mengerikan yang dinarengi dengan kumpulan
asap yang mengepul yang berasal dari kuburan kramat Ki kolor ijuk ).
Diiringi suara-suara seram
Ki kolor ijuk : “ Ha…ha…ha….ha…. Hey,
kalian apa yang kalian lakukan disini, Kunti kau sengaja membuat aku marah ya
?”
Kunti : ( terkejut ) “ A…a….aku
Cuma………..”
Ki kolor ijuk : “ Dasar perempuan gatel, ayo
ikut.” ( menarik tangan Kunti )
Tarmo : “ E…e…e Sembarangan
sampeyan. Ini pacar saya jangan dibawa sembarangan dong.”
Ki kolor ijuk : “ Bocah semprul kamu. Dia
ini istriku yang ke-16 mana mungkin dia bisa jadi pacarmu. Ayo ikut Kunti !”(
menarik tangan Kunti).
Tarmo : “ E…e…e…. jangan
sembarangan dong, Mas. Tanya dulu sama dia, dia pilih saya atau kamu.”
Ki kolor ijuk : “ Dia istriku jelas pilih
aku. Ayo Kunti !” (menarik Kunti).
Kunti : “ Aku gak mau, aku mau ikut
Mas Tarmo.” ( Berlari kearah belakang Tarmo )
Ki kolor ijuk : “ Kunti, kamu melawan aku
?”
Kunti : “ Aku gak akan berani
ngelawan kamu, Mas. Tapi aku bosan jadi istrimu kau selalu meninggalkan aku
sendirian, kalau aku gak nurut aku kamu pukul, dan kau selalu memperlakukanku
seolah-olah aku ini budakmu.Kau tidak pernah mencintaiku.Aku ingin mencari
bangsa manusia yang dapat mengerti apa itu arti cinta.”
Ki kolor ijuk : “ Hantu edan kamu Kunti !
Baiklah aku tidak akan tinggal diam akan kubunuh manusia ini.”( Bersiap
menyerang Tarmo).
Kunti : “ Eh tunggu dulu ! sebelum
bertarung kasih hormat dulu dong.”
( Pertarungan sengit antara
Tarmo dan Ki kolor ijuk pun dimulai. Pertarungan tersebut sangatlah seru dan
terbagi dalam 2 babak pertarungan. Namun sayang ternyata Tarmo kalah dalam
pertarungan itu ).
Tarmo : ( terjatuh menahan sakit ) “
Ah…….agh…….agh.”
Kunti : ( Berteriak ) “ Mas
Tarmooooo……”
Ki kolor ijuk : “ Baiklah. Aku tidak akan
membunuhmu, tetapi jangan pernah datang kesini lagi. Ayo Kunti !”( Menarik
tangan Kunti dengan paksa )
Kunti : ( sambil menangis ) “ Mas
Tarmo tolong mas………mas………”
Tarmo : ( Dengan suara lemah ) “
Kunti…………Kunti…..”
( Ki kolor ijuk dan Kunti
pergi meninggalkan tempat itu dan kembali kealamnya ).
Tarmo : ( sambil melambaikan
tangannya ) “ Tolong……..tolong……..tolong……”
Heni panci : “ Lho ada apa, Mas ?”
Nyai : “ Sepertinya anak muda ini
terkena pukulan dari makhluk ghaib penghuni makam kramat disini.”
Heni panci : “ Apa bisa disembuhkan Nyai?”
Nyai : “ Insya Allah “
( Kemudian Kyai tersebut
menyalurkan tenaga dalamnya untuk menyembuhkan Tarmo)
Tarmo : “ Sakalangkong banyak, Nyai.”
Nyai : “ Ya, sama – sama.”
Heni panci : “ Baiklah, Mas Tarmo.
Bisakah anda menceritakan pengalaman anda kepada pemirsa ?”
Tarmo : ( Panik dan buru – buru
pergi ) “ Saya kapok mba ikut acara ini. Saya mau
pulang saja.”
Heni panci : “ Lho Mas……..lho mas,
tunggu Mas ! Maaf pemirsa rupanya peserta kita kali ini mengalami shock berat,
sehingga tidak bisa menceritakan pengalamannya. Baiklah pemirsa cukup sampai
disini acara kita hari ini, bila ada kritik atau saran dapat anda kirimkan
melalui surat ke alamat dibawah ini ( Poster alamat dibawa oleh Puci dan Sundi
). Baik pemirsa sampai disini acara kita dan sampai ketemu di episode
berikutnya dalam acara “ Menelusuri Alam Ghaib “ bersama saya Heni panci gosong. Sampai jumpa pemirsa.Terima kasih
nyai.”
Nyai : “ Oh, iya.”
( Tiba – tiba mereka telah
dikelilingi oleh hantu – hantu penghuni makam kramat )
Alkisah, di
sebuah kerajaan di tanah Jawa tempo doeloe, hampirlah berlangsung upacara
penyerahan Tahta. Raja Tapa Agung merasa cukup uzur untuk memimpin kerajaannya.
EPISODE 1
1. Raja TA : “Aku merasa sudah cukup tua untuk mengurus kerajaan ini. Aku
merasa tidak sanggup lagi.
2. Patih : “Raja masih kuat. Raja masih strong. Raja masih ROSA! ROSA!” (kaya
iklan Kuku Bima)
3. Raja TA : “Aku sudah mumet memikirkan konflik antara KPK (Komisi Pengamanan
Kerajaan) dan FPB (Front Pasukan Berkuda)”.
4. Patih : “Walaupun kasus itu berlarut-larut, jangan membuat Baginda Raja
putus asa… Jangan menyerah… Jangan menyerah” (Kaya lagune D’Massive)
5. Raja TA : “Patih, aku tidak memiliki anak laki-laki. Aku memiliki 2 anak
putri. Antara Purbararang dan Purbasari, siapa yang pantas yang bisa
kuhandalkan, bukan rayuan bukan pujian”
6. Patih : “Tak ada keraguan saya untuk menjawab. Tentu saja Putri Purbasari,
dia selalu juara satu di kelasnya, dia juga pandai memasak, dan tidak suka
pacaran.
7. Raja : “Kalau putriku Purbararas?”
8. Patih : “Kalau Putri Purbararas, menghawatirkan sekali, sepanjang hari hanya
on line, fesbukan terus sepanjang hari. Suka gonta-ganti cowok”
9. Raja : “Okelah kalo beg.. beg.. begitu Patih, panggilkan semua pejabat
kerajaan, hari ini juga akan kulangsungkan upacara penyerahan tahta”
Menteri woro-woro mengumumkan ke seluruh penjuru kerajaan.
10. Menwor : “Woro-woro, diumumkan kepada semua pejabat kerajaan. Diharapakan
segera memasuki ruang inti Istana Kerajaan! Secepatnya! Tinggalkan segala
bentuk On Line! Segeralah! Segeralah!”
11. Raja TA : “Para Pejabat kerajaan yang berbahagia, hari ini aku akan
meletakkan tahta kerajaan. Karena … Aku tak sangguuup lagi….” (lagunya ST 12)
12. Patih : “Karena ini adalah keinginan Raja dar hati yang paling dalam, saya
harap semuanya memakluminya”
13. Menwor : “Putri Purbasari diharapkan segera mempersiapkan tempat yang telah
disediakan”
(semua bengong, karena yang dipanggil adalah Putri Purbasari, bukan
Purbararang)
14. Purbasari : “Ayahanda, mengapa saya yang dipanggil, bukannya Mbakyu
Purbararang?”
15. Raja TA : “Karena menurut pendapatku dan Patih, kamulah yang layak emnjadi
raja, bukan Kakakmu. Ananda, apakah kamu sipa menerima tahta dari Ayahanda?”
16. Purbasari : “IYa Ayahanda, Okelah kalo begitu”
17. Menwor : “Upacara penyerahan tahta akan segera dilaksanakan, Paduka Raja
dan Putri di mohon segera mempersiapkan diri”
Upacara penyerahan tahta segera dilangsungkan. Semua rakyat bersorak sorai atas
upacara penyerahan tahta tersebut
18. Purbararang : “Hentikan!! Apa-apaan ini? Ayah, kenapa si kecil ini yang
menerima tahta, bukan aku. Ayah tidak adil, seharusnya anak pertamalah yang
berhak memakai mahkota itu!”
19. Raja TA : “Tidak begitu anakku”
20. Purbararang : “Kerajaan ini pasti akan mendapatkan kutukan, karena tidak
menjalankan aturan sebagaimana mestinya.”
21. Purbasari ; “ Iya, ayahanda, seharusnya kakaklah yang menerima tahta ini,
bukan aku. Kakaklah yang pantas”
22. Raja TA : “Justru karena kemuliaan hatimu itu aku memilihmu anakku. Kau
pasti akan menjadi pemimpin yang baik dan dicintai oleh rakyat nak”
23. Purbasari : “Terima kasih Ayah, ayah terlalu memuji, saya khawatir ayah
akan kecewa jika nanti saya tidak sesuai dengan harapan ayah”
24. Purbararang : “Tunggu saj!! Pasti akan tiba saatnya, akan datang kutukan
pada kerajaan ini!!”
EPISODE 2
Purbararang mengajak tunangannya Pangeran Indrajaya menemui dukun pellet number
wahid Ni Ronde untuk menyingkirkan Purbasari.
25. Purbararang : ‘Kangmas, aku sudah muak dengan Purbasari, aku akan buat
perhitungan dengannya”
26. P Ind : “Buat perhitungan? Kamu kan kalah pinter daripada dia?? Masa mau
buat perhitungan, jangankan perkalian, tambah-tambahan saja kamu kalah”
27. Purbararang : “Ganteng tapi oon, maksudku, aku akan membuat Purbasari
sengsara. Akan ku buat dia menderita”
28. P Ind : “Bagaimana caranya? Kamu ini jangan seperti itu to, sama adik
sendiri kok mentolo?”
29. Purbararas : “Salah dia sendiri jadi penggantinya ayah”
30. P Ind : “terus??”
31. Purbararas : “makanya aku ajak kamu kesini”
32. P Ind : “Rumah siapa ini?”
33. Purbararas : “Ni Ronde”
34. P Ind : “Ooo, mau beli wedang ronde saja kok jauh-jauh kesini. Dekat dalan
anyar sana kan ada”
35. Purbararas : “Huss, jaga mulutmu, ini rumahnya Ni Ronde, dukun ampuh yang
kondang kaloka yang mampu mengatasi segala masalah”
36. P Ind : “Mau cari buntutan?” (ujug-ujug mak bedunduk NI Ronde muncul dengan
membawa laptop)
37. Ni Ronde ; “Siapa yang ngomong ngawur tadi?”
38. Purbararas : “maafkan kami mbah, ini calon suami saya, tidak bermaksud
menyepelekan Mbah”
39. Ni Ronde : “Hati hati anak muda! Jaga bicaramu! Mulutmu harimaumu!”
40. P Ind : “Nyuwun pangapunten Mbah Rondo, eh Mbah Ronde”
41. Purbararas : “kami kesini mau anu mbah…”
42. Ni ronde : “Aku sudah tahu”
43. Purbararas : ‘Wah, hebat sekali Mbah ini, aku belum bilang apa-apa sudah
tau… Wah hebat sekali!!!”
44. Ni Ronde : “Ya jelas, kalian kesini pasti mau anu. Masalahnya, anunya itu
apa?”
45. Purbararas : “begini Mbah……” (tampak Purbararas cerita panjang lebar kepada
Ni Ronde)
46. Ni Ronde : “Ooooo, gampaang.” (Ni Ronde membuka Laptopnya)
47. P Ind : “apa itu Mbah?”
48. NI Ronde : “katrok, barang kaya gini saja tidak tahu. Jadi anak muda mbok
jangan gaptek, yang sudah tua saja tahu kok”
49. Purbararas : “apa bisa Mbah?”
50. Ni Ronde : “Seiring dengan kemajuan jaman, perkembangan Ilmu pengetahuan
dan tekhnologi, Dunia perdukunan tidak boleh ketinggalan jaman. Juistru dengan
ini, mantarku bisa lebih update”
51. Purbararas : “terserah Mbah saja, bagaimana enaknya”
(NI Ronde tam[pak ngutak-atik laptop dan mak booom)
EPISODE 3
PURBASARI bangun dari tidurnya
52. Purbasari : “TIDAAAAAAK….” (Wajah Purbasari bentol-bentol tak karuan,
terjadi kepanikan di keluarga kerajaan. Raja nampak mondar-mandir melihat
kejadian aneh menimpa putrinya. Semua pejabat Kerajaan berkumpul)
53. Raja : “Ada apa dengan wajahmu putriku? Padahal selama ini kamu tidak
alergi denganapapun. Apa mungkin, kamu salah make up?”
54. Purbasari : “Tidak Ayahanda. Aku juga tidak tahu”
55. Purbararas : “ Pasti ini kutukan. Iya, kutukan, karena Ayahanda tidak
mengindahkan peringatan saya kemarin”
56. Raja : “bagaimana Patih?”
57. Patih : “maaf baginda, saya juga tidak tahu. Gerangan apa yang membuat Tuan
Putri seperti ini”
58. Purbararas : “kalau tidak segera ditindak lanjuti, ini bisa menimbulkan aib
dalam kerajaan ini, dan bisa menyebabkan keruntuhan. Karena kerajaan ini
dipimpin oleh seseorang yang buruk rupa. APA KATA DUNIA??”
59. Raja : “Terus?”
60. Purbararas : “Satu-satunya cara hanyalah, ayah harus mencabut keputusan
kemarin dan menyerahkan tahta kerajaan ini kepadaku”
61. Raja TA : “Bagaimana Patih?”
62. Patih : “Mungkin itu jalan yang terbaik”
63. Raja TA : “bagaimana dengan Purbasari?”
64. P Ind : “Kalau kita biarkan Putri Purbasari tetap berada di dalam istana
ini, bisa-bisa semua keluarga kerajaan dan rakyat tertular virus mematikan yang
belum ada antivirusnya itu”
65. Purbararas : “Mungkin, dia terkena flu burung, atau mungkin flu babi…Jadi,
kita bakar saja dia”
66. Patih : “Itu terlalu keji. Mungkin, kita bawa dia ketempat yang jauh dari
pemukiman penduduk”
67. P Ind : “Diasingkan??”
68. Purbararas : “Yah, keputusan yang bagus, aku juga kasihan sama dia. Masih
muda tapi penyakitan. Makanya, mandi setiap hari…”
69. Purbasari : “Ayaah…..’ (menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya)
Purbasari kemudian diasingkan ke hutan. Dia diantar oleh Sang Patih. Patih
dengan baik hati membuatkan gubuk kecil untuk tempat bereteduh Paaurbasari.
EPISODE 4
70. Patih : “Tuan Putri, maafkan saya, saya tidak bisa berbuat banyak, dan
hanya inilah yang dapat saya lakukan untuk membantu Tuan Putri”
71. Purbasari : “Ini semua sudah lebih dari cukup Patih. Terima kasih atas
semuanya”
72. Patih : “Tuan Putri, ijinkan saya untuk kembali ke istana. Karena dikejar
deadline”
73. Purbasari : “Silahkan Patih”
Patih meninggalkan Purbasari sendirian, awalnya dia merasa kesepian. Waktu
berlalu dan berjalan. Dia semakin krasan di hutan itu. Dia memiliki banyak
teman, tetapi bukan manusia, tetapi bangsa binatang. Di kerajaan, Purbararas
memerintah kerajaan denagn sangat angkuh. Raja TA semakin tua dan sakit-sakitan
merasakan penderitaan Putri tercintanya, Purbasari.
Di tempat lain, tepatnya di kahayangan. Ada seorang Dewa muda yang tampan yang
bernama Guru Minda telah melakukan kesalahan sehingga dikutuk turun ke bumi
oleh Dewa senior. Tetapi tidak dalam wujud manusia, yaitu dalam wujud Lutung.
Yang kemudian dipanggil si Utung.
Si Utung bergelayutan kesana-kemari. Hingga pada suatu hari, dia melihat
seorang Putri yang tidak begitu cantik sedang mandi di sungai. Dia ngintip.
Waktu Purbasari mandi, selendangnya dicuri Si Utung.
74. Purbasari : “Aduh, siapa ya yang mau mengambilkan selendang itu. Si ikan,
dia mana mungkin bisa. Toloong, toloong. Siapa yang mencuri selendangku? Ngaku
aja lah. Lagian siapa manusia yang mau menghuni hutan ini kecuali aku.
Sayembara-sayembara, siapa yang mengembalikan selendangku, kalau perempuan akan
kujadikan saudara, kalau laki-laki, akan kujadikan suami”
Ceritanya jadi ngelantur nich, kok kaya Jaka Tarub aja. Ya udahlah, kita
saksikan saja cerita berikutnya.
Tiba-tiba, Si Utung mengembalikan selendang Purbasari.
Waktu berlalu, hubungan antara Purbasari dan si Utung semakin akrab.
Sementara itu, di kerajaan ke angkara murkaan semakin meraja lela. Purbararas
semakin bertindak sewenang-wenang. Semua rakyatnya hanya fesbukan sepanjang
hari, karena diberlakukan tariff gratis. Pornografi pun merajalela. Kafe mesum
berdiri dimana-mana. Semuanya jadi kacau balau. Hal ini menimbulakn kecemasan
di hati mantan raja Tapa Agung.
75. Raja TA : “Patih, aku semakin tak mengerti dengan semua yang telah
dilakukan oleh Purbararas, kerajaan jadi kacau balau. Oh iya Patih, kamu sudah
menjenguk Purbasari belum?”
76. Patih : “Belum Baginda, sejak 2,5 tahun yang lalu”
77. Raja Ta : “Tolong kamu jenguk dia, mungkin dia membutuhkan bantuan”
78. Patih : “Kapan Baginda?”
79. Raja TA : “Tahun depan! Ya sekarang! Dan, bawa pulang”
(akhirnya Patih pun berangkat menjenguk Purbasari.) Sementara itu ada kejadian
tak terduga terjadi di hutan, saat putri mengurai rambutnya. Yang akan segera
mandi.
80. Si Utung : “Kasihan sekali gadis itu, ia pasti sangat cantik jika kulitnya
tidak bentol-bentol seperti itu. Dan sepertinya, ada yang tidak wajar pada
penyakit gadis ini. Aku harus menolongnya”
(Purbasari kemudian menuju sungai untuk mandi, tiba-tiba terdengar suara dari
langit)
“Purbasari, sebelum kamu mengerjakan apapun, berdoalah. Sebelum kamu makan,
berdoalah. Sebelum kamu bekerja, berdoalah. Sekarang kamu mau mandi, berdoalah.
Semoga itu bisa menyembuhkan semua penyakitmu” (Purbasari mencoba mencari
darimana asal suara itu, kemudian dia memulai mendi dengan membaca….
81. Purbasari : “Bismillahirrohmaannirrokhim”
Akhirnya keajaiban pun dating, semua bentol-bentol di kulit Purbasari pun
amblas, lenyap tiada tersisa… Kecantikan pun terpancar
82. Purbasari : “Alhamdulillah… terima kasih Tuhan…” (kemudian dia menemui Si
Utung dan bercanda bersama sebagai wujud rasa syukurnya). Dari kejauhan nampak Patih
datang. Patih pun terkejut melihat penampilan baru dari Purbasari.
83. Patih : “Tuan Putri….?? Tuan Putri sudah sembuh sekarang. Tuan Putri cantik
sekali hari ini”
84. Purbasari : “Iya Patih. By the way, ada urusan apa Patih datang kesini?
Apakah keadaan ayah baik-baik saja? Apakah kedaan kerajaan juga baik-baik
saja?”
85. Patih : “Saya datang kesini atas perintah dari Ayahanda Tuan Putri. Beliau
sakit-sakitan, beliau sangat mencemaskan Tuan Putri, semenjak Tuan Putri diusir
dari kerajaan, beliau sakit-sakitan. Keadaan kerajaan pun kacau balau”
86. Purbasari : “Terus?”
87. Patih : “Baginda berharap, Tuan Putri berkenan untuk kembali lagi ke
istana”
88. Purbasari : “Apakah mereka akan menerimaku, terutama kakakku. Sebenarnya
aku kerasan disini. Aku juga banyak teman disini. Tetapi, aku kangen banget
dengan sate ayam kerajaan. Okelah, aku akan ikut pulang ke istana”
Si Utung pun tertunduk lesu mendengarkan kalimat itu. Dia merasa kecewa.
89. Purbasari : “Kenaap Tung? Kamu kecewa denganku? Tenang, aku akan mengajakmu
ke istana. Aku dulu pernah berjanji, siapapun yang mengembalikan selendangku,
akan kujadikan pendamping hidupku. Akan kupenuhi janji itu.”
Akhirnya mereka bertiga kembali ke istana. Semua penghuni kerajaan bersorak
sorai melihat kepulangan Putri Purbasari dari hutanb belantara.
90. Patih
Putri Purbararang kwawatir posisinya akan terancam. Ia tahu bahwa sebagian
besar pejabat istana dan juga warga tidak menyukainya. Mereka dengan senang
hati pasti akan memintanya mundur untuk digantikan adiknya. Setelah berpikir
sangat keras, akhirnya putri Purbararang meminta untuk diadakan sayembara.
Pemenangnya akan menerima tampuk kerajaan sedangkan yang kalah harus dihukum
pancung. Prabu Tapa Agung
menyetujuinya. Ia yakin putri bungsunya dapat memenangkan pertandingan.
Meskipun begitu, prabu Tapak Agung juga berdoa meminta Tuhan untuk melindungi
putri Purbasari. Putri Purbasari termenung mendengar tantangan kakaknya. Ia
tahu kakaknya pasti akan menghalalkan segala cara untuk menang.
“Jangan khawatir putri. Kan ada aku!”
Si Utung memberikan semangat. Tibalah hari perlombaan. Kedua putri telah siap
berhadapan. Perlombaan pertama adalah memasak. Peraturannya adalah: Masakan
yang paling cepat disajikan dan paling lezat adalah yang menang. Dari awal
sudah terlihat bahwa kekuatan mereka tidak seimbang. Putri Purbararang dibantu
puluhan juru masak istana sementara putri Purbasari hanya ditemani si Utun.
Diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun si Utung meminta bantuan para bidadari
untuk membantu ia dan putri Purbasari. Setelah tanda mulai dibunyikan semua
mulai bekerja. Para juru masak yang sudah terbiasa menghidangkan
makanan-makanan lezat bekerja sangat cepat. Dalam setengah jam saja hidangan
lengkap sudah hampir selesai. Yang mengejutkan adalah putri Purbasari. Meskipun
hanya berdua, kecepatan kerja mereka tidak kalah dengan kubu kakaknya. Bahkan
hidangan mereka telah siap dihidangkan sebelum setengah jam. Hanya Utung yang
matanya bisa melihat puluhan bidadari ikut memotong, mengupas dan meniup api
supaya pekerjaan putri Purbasari cepat rampung. Seorang bidadari menaburkan
bumbu rahasia kahyangan yang akan melezatkan masakan hingga rasanya tiada tara.
Para juri memutuskan putri Purbasari yang memenangkan babak pertama. Putri
Purbararang dengan murka segera memecat semua juru masaknya. Merasa tidak puas
dengan hasil penilaian juri. Putri Purbararang mengganti semua juri untuk
perlombaan babak kedua yaitu panjang rambut.
“Hah, sejak kecil rambutku selalu lebih panjang daripada rambutnya. Awas
Purbasari! Kali ini habislah kau!”
Hatinya gemuruh penuh percaya diri. Pertama para pelayan mengurai rambut putri
Purbararang dan mengukurnya. “Pas selutut!” teriak pengukur. Rakyat saling
bergumam. Sebagian besar mereka mengharapkan kemenangan putri Purbasari.
Giliran putri Purbasari yang mengurai rambutnya. Semua menahan nafas ketika
pelayan mengukur rambutnya yang berkilau.
“Semata kaki!”
teiaknya lagi. Rakyat bersorai sementara putri Purbararang memerah mukanya.
Karena tinggi putri Purbararang dan putri Purbasari sama maka juri menyatakan
putri Purbasari kembali menang. Putri Purbararang melemparkan sisirnya dengan
kesal. Seharusnya pemenangnya sudah pasti yaitu putri Purbasari. Tapi putri
Purbararang berkeras untuk tetap melaksanakan perlombaan ketiga.
“Seorang ratu haruslah memiliki pasangan yang bisa dibanggakan,”
ujarnya seraya melirik pangeran Indrajaya.
“Apa kata Negara tetangga jika suami ratu buruk rupanya.”
Putri Purbasari memerah. Ia tersinggung mendengar sahabatnya dihina. Si Utung
menenangkannya.
“Sabar putri! Biarkan ia bahagia sejenak. Nanti kita lihat apakah setelah ini
ia bisa tertawa,”
ujarnya. Putri Purbasari berusaha tenang meskipun ia tetap khawatir. Karena
lomba ketiga ini adalah menentukan pasangan siapakah yang paling gagah dan
tampan. Sudah jelas putri Purbararang ada di atas angin. Pangeran Indrajaya
memang sangat gagah dan tampan. Sedangkan putri Purbasari tidak memiliki
pasangan. Selain si Utung tentunya, yang selalu setia menemaninya. Tapi
haruskah ia mengakuinya sebagai pasangannya?
“Hei Purbasari, kali ini kau kalah! Semua pasti setuju kalau pasanganku jauuuuh
lebih tampan dibanding lutungmu itu hahaha…!”
Putri Purbararang tertawa geli hingga keluar air mata. Tak seorang pun yang
ikut tertawa bersamanya. Rakyat tertunduk sedih membayangkan kejadian buruk
yang akan menimpa putri Purbasari.
“Tunggu!”
Sebuah suara menghentikan tawa putri Purbararang. Semua mencari asal suara
tersebut. Utung berdiri tegak di kedua kakinya. Bulu-bulunya yang hitam dan
lebat berkibar ditiup angin. Kelihatannya lucu, tapi tidak ada yang tertawa.
Rakyat semakin sedih melihat penampilan si Utung. Dengan tenang Utung menatap
putri Purbasari yang juga menatapnya dengan penasaran.
“Putri aku sudah berjanji untuk selalu menolongmu. Tapi kali ini aku tidak bisa
menolongmu kecuali....” Utung menggantung kalimatnya.
“Kecuali apa Tung?”
tanya putri Purbasari.
“Kecuali putri menerimaku sebagai pasangan sejatimu!”
Rakyat bergemuruh tidak setuju. Putri Purbararang semakin terkikik geli. Putri
Purbasari dengan tenang tersenyum dan menganggukan kepalanya.
“Tidak ada yang lebih pantas menjadi pasanganku selain kamu Tung. Di saat semua
memalingkan muka karena jijik melihatku, kau satu-satunya yang mau menemaniku.”
BLARR! Petir menggelegar di siang bolong. Putri Purbasari terpekik histeris.
Sontak semua memandang ngeri ke tempat Utung berdiri. Petir itu menyambar tepat
ke badan Utung yang langsung dipenuhi asap. Putri masih menjerit-jerit dan
menangis berusaha menembus asap tebal yang membungkus Utung, ia terbatuk-batuk.
Keajaiban terjadi saat asap tebal perlahan-lahan menipis. Di tempat itu,
berdirilah seorang pemuda yang ketampanan dan kegagahannya sulit dilukiskan
kata-kata. Rakyat terpana. Putri Purbararang ternganga lebar. Putri Purbasari
menatap bingung. Ia masih mencari-sisa-sisa tubuh si Utung. Mana mungkin lenyap
begitu saja.
“Siapa yang kau cari putri?”
tanya pemuda itu. Ia tersenyum lebar.
“U..Utung. Dimana dia?”
putri terisak.
“Inilah aku...si Utung!”
katanya menunjuk dirinya.
“Aa..apa? Man..mana mungkin,”
putri tergagap dan semakin bingung.
“Hei pemuda tampan. Jangan main-main. Sebaiknya kau keluar dari lapangan ini.
Aku akan segera menghukum pancung Purbasari karena dia telah kalah dalam
perlombaan ini!”
teriak putri Purbararang. Pemuda itu tetap berdiri gagah di tengah lapangan,
melindungi putri Purbasari dari jangkauan putri Purbararang.
“Baiklah aku perkenalkan diriku!”
katanya.
“Namaku Guru Minda. Saya adalah seorang dewa yang sedang dihukum dan
diperintahkan untuk turun ke bumi. Kutukan itu akan luntur jika ada seorang
gadis yang benar-benar tulus menerimaku sebagai pasangan sejatinya.”
Guru Minda berpaling kepada rakyat yang masih terpana memandangnya.
“Nah sekarang pilihlah siapakah yang lebih tampan dan gagah. Apakah pangeran
Indrajaya atau aku?”
Serentak rakyat menyerukan namanya dan menunjuknya. Artinya putri Purbasari
memenangkan ketiga lomba tersebut. Putri Purbararang kalah. Rakyat berseru-seru
meminta putri Purbararang dihukum pancung. Putri Purbararang terduduk lemas. Ia
menangis menyesali kesombongannya. Disadarinya saat ia benar-benar tersudut,
tak ada seorang pun yang sudi menolongnya. Benarkah? Ternyata tidak. Putri
Purbasari berlutu di hadapannya dan memeluknya erat.
“Aku tidak akan menghukum kakakku sendiri. Kakak boleh tetap menjadi ratu
asalkan kakak berjanji akan memimpin rakyat dengan sebaik-baiknya,”
ucapnya lembut. Putri Purbararang begitu tersentuh dengan kebaikan hati
adiknya.
“Kau memang sangat baik hati. Setelah semua kejahatan yang aku lakukan, kau
dengan mudah memaafkanku. Kaulah yang seharusnya menjadi ratu. Aku Sekarang
sadar mahkota ini lebih pantas berada di kepalamu. Maafkan aku!”
Istana begitu gemerlap hari itu. Penobatan ratu baru berlangsung meriah namun
khidmat. Hari itu juga dilangsungkan pernikahan putri Purbasari dan Guru Minda.
Semua senang, semua bahagia. Dan kisah ini pun berakhir bahagia.