BAB I
PEMBAHASAN
Pengertian Kebudayaan
Kebudayaan adalah sikap hidup yang khas dari
sekelompok individu yang dipelajari secara turun temurun, tetapi sikap hidup
ini ada kalanya malah mengundang risiko bagi timbulnya suatu penyakit.
Kebudayaan tidak dibatasi oleh suatu batasan tertentu yang sempit, tetapi
mempunyai struktur-struktur yang luas sesuai dengan perkembangan dari
masyarakat itu sendiri
Kebudayaan yaitu sesuatu yang akan mempengaruhi
tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam
pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari kebudayaan bersifat
abstrak.
Kata kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta yaitu buddhayah yang
merupakan bentuk jamak dari (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang
berkaitan dengan budi dan akal manusia.
Definisi dari budaya yaitu suatu cara hidup yang
berkembang dan dimiliki bersama oleh sekelompok orang dan diwariskan dari
generasi ke generasi selanjutnya. Budaya terbentuk dari unsur yang rumit,
termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian,
bangunan dan karya seni.
Sistem Religi
Religi asli suku Dayak tidak
terlepas dari adat istiadat mereka. Bahkan dapat dikatakan adat menegaskan
identitas religius mereka. Dalam praktik sehari-hari, orang dayak tidak pernah
menyebut agama sebagai normativitas mereka, melainkan adat. Sistem religi ini
bukanlah sistem hindu Kahuringan seperti yang dikenal oleh orang-orang pada
umumnya.
Orang Dayak Kanayatn menyebut Tuhan
dengan istilah Jubata. Jubata inilah yang dikatakan menurunkan adat kepada
nenek moyang Dayak Kanayatn yang berlokasi di bukit bawakng . Dalam
mengungkapkan kepercayaan kepada Jubata, mereka memiliki tempat ibadah yang
disebut panyugu atau padagi. Selain itu diperlukan
juga seorang imam panyangahatn yang menjadi seorang penghubung,
antara manusia dengan Tuhan (Jubata).
Sekarang ini banyak orang Dayak Kanayatn yang menganut
agama Kristen dan
segelintir memeluk Islam.
Kendati sudah memeluk agama, tidak bisa dikatakan bahwa orang Dayak Kanayatn
meninggalkan adatnya. Hal menarik ialah jika seorang Dayak Kanayan memeluk
agama Islam, ia tidak lagi disebut Dayak, melainkan Melayu atau orang Laut .
Seni Tari Dayak
1. Tari Gantar
Tarian yang menggambarkan gerakan
orang menanam padi. Tongkat menggambarkan
kayu penumbuk sedangkan bambu serta biji-bijian didalamnya
menggambarkan benih padi
dan wadahnya.
Tarian ini cukup terkenal dan
sering disajikan dalam penyambutan tamu dan acara-acara lainnya.Tari ini tidak
hanya dikenal oleh suku Dayak Tunjung namun juga dikenal oleh suku Dayak
Benuaq. Tarian ini dapat dibagi dalam tiga versi yaitu tari Gantar Rayatn,
Gantar Busai dan Gantar Senak/Gantar Kusak.
2. Tari Kancet
Papatai / Tari Perang
Tarian ini menceritakan tentang
seorang pahlawan Dayak Kenyah berperang melawan musuhnya. Gerakan tarian ini sangat
lincah, gesit, penuh semangat dan kadang-kadang diikuti oleh pekikan si penari.
Dalam tari Kancet Pepatay, penari
mempergunakan pakaian tradisionil suku Dayak Kenyah dilengkapi dengan peralatan
perang seperti mandau, perisai dan baju perang. Tari ini diiringi dengan lagu
Sak Paku dan hanya menggunakan alat musik Sampe.
3. Tari Kancet Ledo
/ Tari Gong
Jika Tari Kancet Pepatay
menggambarkan kejantanan dan keperkasaan pria Dayak Kenyah, sebaliknya
Tari Kancet Ledo menggambarkan kelemahlembutan seorang gadis bagai sebatang
padi yang meliuk-liuk lembut ditiup oleh angin.
Tari ini dibawakan oleh seorang
wanita dengan memakai pakaian Tari Kancet Ledo tradisional suku Dayak Kenyah
dan pada kedua tangannya memegang rangkaian bulu-bulu ekor burung Enggang.
Biasanya tari ini ditarikan diatas sebuah gong, sehingga Kancet Ledo disebut
juga Tari Gong.
4. Tari Kancet
Lasan
Menggambarkan kehidupan sehari-hari
burung Enggang, burung yang dimuliakan oleh suku Dayak Kenyah karena dianggap
sebagai tanda keagungan dan kepahlawanan. Tari Kancet Lasan merupakan tarian
tunggal wanita suku Dayak Kenyah yang sama gerak dan posisinya seperti Tari
Kancet Ledo, namun si penari tidak mempergunakan gong dan bulubulu burung
Enggang dan juga si penari banyak mempergunakan posisi merendah dan berjongkok
atau duduk dengan lutut menyentuh lantai.
Tarian ini lebih ditekankan pada
gerak-gerak burung Enggang ketika terbang melayang dan hinggap bertengger di
dahan pohon. Posisinya seperti Tari Kancet Ledo, namun si penari
tidak mempergunakan gong dan bulubulu burung Enggang dan juga si penari banyak
mempergunakan posisi merendah dan berjongkok atau duduk dengan lutut menyentuh
lantai. Tarian ini lebih ditekankan pada gerak-gerak burung Enggang ketika
terbang melayang dan hinggap bertengger di dahan pohon.
5. Tari
Belian Bawo
Upacara Belian Bawo bertujuan untuk
menolak penyakit, mengobati orang sakit, membayar nazar dan lain
sebagainya. Setelah diubah menjadi tarian, tari ini sering disajikan pada
acara-acara penerima tamu dan acara kesenian lainnya. Tarian ini merupakan
tarian suku
Dayak Benuaq.
Senjata Tradisional Suku Dayak
Pada zaman penjajahan di Kalimantan
dahulu kala, serdadu Belanda bersenjatakan senapan dengan teknologi mutakhir
pada masanya, sementara prajurit Dayak umumnya hanya mengandalkan sumpit. Akan
tetapi, serdadu Belanda ternyata jauh lebih takut terkena anak sumpit ketimbang
prajurit Dayak diterjang peluru. Berikut ini adalah senjata-senjata tradisional
suku dayak :
1.
Sipet
/ Sumpitan. Merupakan senjata utama suku dayak. Bentuknya bulat dan berdiameter
2-3 cm, panjang 1,5 - 2,5 meter, ditengah-tengahnya berlubang dengan diameter
lubang ¼ - ¾ cm yang digunakan untuk memasukan anak sumpitan (Damek). Ujung
atas ada tombak yang terbuat dari batu gunung yang diikat dengan rotan dan
telah di anyam. Anak sumpit disebut damek, dan telep adalah tempat anak
sumpitan.
2.
Lonjo
/ Tombak. Dibuat dari besi dan dipasang atau diikat dengan anyaman rotan dan
bertangkai dari bambu atau kayu keras.
3.
Telawang
/ Perisai. Terbuat dari kayu ringan, tetapi liat. Ukuran panjang 1 – 2 meter
dengan lebar 30 – 50 cm. Sebelah luar diberi ukiran atau lukisan dan mempunyai
makna tertentu. Disebelah dalam dijumpai tempat pegangan.
4.
Mandau.
Merupakan senjata utama dan merupakan senjata turun temurun yang dianggap
keramat. Bentuknya panjang dan selalu ada tanda ukiran baik dalam bentuk
tatahan maupun hanya ukiran biasa. Mandau dibuat dari batu gunung, ditatah,
diukir dengan emas/perak/tembaga dan dihiasi dengan bulu burung atau rambut
manusia. Mandau mempunyai nama asli yang disebut “Mandau Ambang Birang Bitang
Pono Ajun Kajau”, merupakan barang yang mempunyai nilai religius, karena
dirawat dengan baik oleh pemiliknya. Batu-batuan yang sering dipakai sebagai
bahan dasar pembuatan Mandau dimasa yang telah lalu yaitu: Batu Sanaman
Mantikei, Batu Mujat atau batu Tengger, Batu Montalat.
5.
Dohong.
Senjata ini semacam keris tetapi lebih besar dan tajam sebelah menyebelah.
Hulunya terbuat dari tanduk dan sarungnya dari kayu. Senjata ini hanya boleh
dipakai oleh kepala-kepala suku, Demang, Basir.
Adat Istiadat
Suku Dayak
Di bawah ini
ada beberapa adat istiadat suku dayak yang masih terpelihara hingga kini, dan
dunia supranatural Suku Dayak pada zaman dahulu maupun zaman sekarang yang
masih kuat sampai sekarang. Adat istiadat ini merupakan salah satu kekayaan
budaya yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia, karena pada awal mulanya Suku Dayak
berasal dari pedalaman Kalimantan.
Upacara Tiwah
Upacara Tiwah
merupakan acara adat suku Dayak. Tiwah merupakan upacara yang dilaksanakan
untuk pengantaran tulang orang yang sudah meninggal ke Sandung yang sudah di
buat. Sandung adalah tempat yang semacam rumah kecil yang memang dibuat khusus
untuk mereka yang sudah meninggal dunia.
Dunia Supranatural
Dunia
Supranatural bagi Suku Dayak memang sudah sejak jaman dulu merupakan ciri khas
kebudayaan Dayak. Karena supranatural ini pula orang luar negeri sana menyebut
Dayak sebagai pemakan manusia ( kanibal ). Namun pada kenyataannya Suku Dayak
adalah suku yang sangat cinta damai asal mereka tidak di ganggu dan ditindas
semena-mena. Kekuatan supranatural Dayak Kalimantan banyak jenisnya, contohnya
Manajah Antang. Manajah Antang merupakan cara suku Dayak untuk mencari petunjuk
seperti mencari keberadaan musuh yang sulit di temukan dari arwah para leluhur
dengan media burung Antang, dimanapun musuh yang di cari pasti akan ditemukan.
-
Mangkok
merah. Mangkok merah merupakan media persatuan Suku Dayak. Mangkok merah
beredar jika orang Dayak merasa kedaulatan mereka dalam bahaya besar.
“Panglima” atau sering suku Dayak sebut Pangkalima biasanya mengeluarkan
isyarat siaga atau perang berupa mangkok merah yang di edarkan dari kampung ke
kampung secara cepat sekali. Dari penampilan sehari-hari banyak orang tidak
tahu siapa panglima Dayak itu. Orangnya biasa-biasa saja, hanya saja ia
mempunyai kekuatan supranatural yang luar biasa. Percaya atau tidak panglima
itu mempunyai ilmu bisa terbang kebal dari apa saja seperti peluru, senjata
tajam dan sebagainya.
-
Mangkok
merah tidak sembarangan diedarkan. Sebelum diedarkan sang panglima harus
membuat acara adat untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk memulai
perang. Dalam acara adat itu roh para leluhur akan merasuki dalam tubuh
pangkalima lalu jika pangkalima tersebut ber “Tariu” ( memanggil roh leluhur
untuk untuk meminta bantuan dan menyatakan perang ) maka orang-orang Dayak yang
mendengarnya juga akan mempunyai kekuatan seperti panglimanya. Biasanya orang
yang jiwanya labil bisa sakit atau gila bila mendengar tariu.
-
Orang-orang
yang sudah dirasuki roh para leluhur akan menjadi manusia dan bukan. Sehingga
biasanya darah, hati korban yang dibunuh akan dimakan. Jika tidak dalam suasana
perang tidak pernah orang Dayak makan manusia. Kepala dipenggal, dikuliti dan
di simpan untuk keperluan upacara adat. Meminum darah dan memakan hati itu,
maka kekuatan magis akan bertambah. Makin banyak musuh dibunuh maka orang
tersebut makin sakti.
-
Mangkok
merah terbuat dari teras bambu (ada yang mengatakan terbuat dari tanah liat)
yang didesain dalam bentuk bundar segera dibuat. Untuk menyertai mangkok ini
disediakan juga perlengkapan lainnya seperti ubi jerangau merah (acorus
calamus) yang melambangkan keberanian (ada yang mengatakan bisa diganti dengan
beras kuning), bulu ayam merah untuk terbang, lampu obor dari bambu untuk suluh
(ada yang mengatakan bisa diganti dengan sebatang korek api), daun rumbia
(metroxylon sagus) untuk tempat berteduh dan tali simpul dari kulit kepuak
sebagai lambang persatuan. Perlengkapan tadi dikemas dalam mangkok dari bambu
itu dan dibungkus dengan kain merah.
-
Menurut
cerita turun-temurun mangkok merah pertama beredar ketika perang melawan Jepang
dulu. Lalu terjadi lagi ketika pengusiran orang Tionghoa dari daerah-daerah
Dayak pada tahun 1967. pengusiran Dayak terhadap orang Tionghoa bukannya perang
antar etnis tetapi lebih banyak muatan politisnya. Sebab saat itu Indonesia
sedang konfrontasi dengan Malaysia.
-
Menurut
kepercayaan Dayak, bahwa asal-usul nenek moyang suku Dayak itu diturunkan dari
langit yang ke tujuh ke dunia ini dengan “Palangka Bulau” (Palangka artinya
suci, bersih, merupakan ancak, sebagai tandu yang suci, gandar yang suci dari
emas diturunkan dari langit, sering juga disebutkan “Ancak atau Kalangkang”).
BAB II
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan paparan dan analisis
data pada bab sebelumnya, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai
jawaban atas permasalahan yang diangkat yaitu antara lain:
1. Sebagian
masyarakat suku dayak pada dasarnya masih sangat menghargai kebudayaan tersebut
dan juga sangat menghormati leluhur mereka, karena dalam kehidupan mereka
sangat percaya pada leluhur mereka, apapun yang ditinggalkan oleh leluhur
mereka itulah yang wajib dikerjakan dan mereka beranggapan bahwa bila ini tidak
dijalankan maka aka nada bencana bagi keluarga mereka dan juga orang yang
ada disekitar mereka .
2. Sistem
kekerabatan suku dayak yaitu menggunakan system parental ( ayah dan ibu) .
B. Saran
Sebagai warga Negara Indonesia kita
perlu mengetahui kebudayaan-kebudayaan yang ada di Negara kita sendiri. Kadang
kita lebih mengenal budaya yang ada di Negara barat melainkan budaya kita
sendiri. Salah satu budaya dari Negara kita adalah budaya suku dayak . Tentu
bukan hanya budaya dayak yang ada di negara Indonesia, melainkan masih banyak
budaya-budaya yang belum kita ketahui . Maka dari itu kita harus mengenal
budaya kita sendiri mulai memberikan wawasan kepada anak-anak sejak dini agar
memahami beragam budaya yang ada di Negeri cercinta ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar